Logo

Barantin-BRIN, Sinergi Dalam Penguatan Perkarantinaan dan Biosekuriti Nasional

18 Mei 2026
29 dibaca
Barantin-BRIN, Sinergi Dalam Penguatan Perkarantinaan dan Biosekuriti Nasional

Kontributor

Jakarta – Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengunjungi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria dalam rangka audiensi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antar lembaga guna mendukung sistem perkarantinaan nasional yang modern, inovatif, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan, serta sinergi Barantin dan BRIN untuk penguatan biosekuriti nasional, di Gedung B.J Habiebie, Senin (18/05).

Pertemuan ini sekaligus menjadi momentum penting untuk menindaklanjuti berbagai kesepakatan kerja sama yang telah terbangun di antara kedua institusi, khususnya dalam penguatan riset, inovasi teknologi, pengembangan laboratorium, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan.

Abdul Kadir Karding menyampaikan terdapat terdapat tiga sasaran dalam kolaborasi ini yaitu sinergi sumber daya riset antara Barantin dan BRIN, peningkatan daya saing perdagangan nasional melalui inovasi berbasis riset, penguatan biosekuriti nasional terhadap penyakit menular baru dan ancaman biologis eksotik.

“Dalam menghadapi tantangan global berupa meningkatnya risiko penyebaran hama dan penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan, perubahan iklim, perdagangan internasional, serta ancaman biosekuriti lintas negara, diperlukan sistem karantina yang didukung oleh penguasaan teknologi dan kemampuan diagnostik yang kuat. oleh karena itu, kolaborasi Barantin dan BRIN diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi strategis yang mendukung efektivitas tindakan karantina dan pengawasan keamanan hayati nasional,” jelas Abdul Kadir Karding

Abdul Kadir Karding menekankan penguatan sumber daya manusia perkarantinaan melalui pengembangan kapasitas berbasis riset dan teknologi. Penguatan tersebut dapat dilakukan melalui program pendidikan lanjutan berbasis riset, pelatihan biosekuriti dan biosafety, peningkatan kompetensi diagnostik modern, pengembangan data science dan artificial intelligence untuk pengawasan karantina, magang dan pertukaran tenaga ahli, hingga training of trainers bagi SDM teknis dan laboratorium.

Selain penguatan SDM, audiensi ini juga menjadi forum strategis untuk membahas dukungan BRIN terhadap kebutuhan kuota satwa uji dalam rangka pengembangan metode pengujian, validasi diagnostik, dan penguatan sistem deteksi penyakit yang bersumber pada hama dan penyakit karantina hewan, ikan dan tumbuhan.

Lebih lanjut, Abdul Kadir Karding juga mengemukakan kerja sama penguatan laboratorium karantina hewan, ikan, dan tumbuhan. Penguatan laboratorium diarahkan pada harmonisasi metode pengujian, standardisasi laboratorium, validasi metode uji, pengembangan teknologi diagnostik cepat, serta peningkatan kualitas dan pengakuan hasil pengujian laboratorium secara nasional maupun internasional. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat kredibilitas sistem karantina Indonesia dalam mendukung perdagangan internasional, perlindungan sumber daya hayati, dan keamanan pangan nasional.

“melalui audiensi ini semoga terbangun langkah konkret dan berkelanjutan antara Badan Karantina Indonesia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam mewujudkan sistem perkarantinaan yang berbasis sains, inovatif, responsif terhadap tantangan global, serta mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan hayati Indonesia,” tutup Abdul Kadir Karding.

Arif Satria menyambut baik audiensi baik Barantin. Menurutnya Barantin adalah penjaga utama pertahanan Indonesia dari serangan biologis dan melindungi sumber daya hayati. Hal ini merupakan peran yang sangat penting dan bermanfaat untuk peningkatan ekonomi nasional.

“BRIN akan membentuk tim kelompok kerja yang nantinya akan berkunjung kantor karantina di Bandara atau Pelabuhan untuk melihat kondisi, proses laboratorium serta mengkaji modernisasi laboratorium yang dibutuhkan oleh Barantin,” imbuhnya.

Dalam hal penguatan SDM, BRIN akan berkerjasama dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Barantin dalam hal pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh fungsional Barantin serta Kerjasama dalam hal riset dan inovasi teknologi perkarantinaan.

“Hubungan lintas sectoral ini sangatlah penting agar tidak ada hambatan-hambatan kedepan. Untuk selanjutnya tindak lanjut audiensi ini dapat dilakukan pertemuan-pertemuan antara tim teknis BRIN dan Barantin untuk pembahasan lebih dalam,” pungkas Arif Satria.

Bagikan Berita