Logo

Barantin Dorong Transformasi Pertanian Modern demi Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

18 Juli 2026
83 dibaca
Barantin Dorong Transformasi Pertanian Modern demi Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Kontributor

Penulis
Wanti

Jakarta – Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, menegaskan pentingnya transformasi sektor pertanian sebagai fondasi dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Sarasehan Jaringan Petani bertajuk "Bersinergi, Berkolaborasi, Berdaya untuk Pertanian Indonesia Maju dan Berdaulat" yang diselenggarakan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), di Jakarta, Sabtu (18/7).

Dalam sambutannya, Karding mengatakan bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. Menurutnya, negara yang tidak memiliki sumber pangan akan menghadapi tantangan besar sehingga pembangunan sektor pertanian harus terus diperkuat.

"Yang harus kita dorong adalah bagaimana membangun sistem pertanian Indonesia yang modern, efisien, berkelanjutan, dan menjadi sarana mencapai kesejahteraan petani," ujar Karding.

Ia menjelaskan, sektor pertanian saat ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan iklim, konflik antarnegara yang berdampak pada pasokan pangan dunia, alih fungsi lahan pertanian, hingga semakin berkurangnya jumlah petani produktif. Karena itu, regenerasi petani menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus terus didorong agar sektor pertanian tetap mampu menopang ketahanan pangan nasional.

Menurut Karding, penguatan organisasi petani menjadi salah satu kunci dalam membangun pertanian Indonesia yang maju dan berdaulat. Selain itu, terdapat lima langkah besar yang perlu dilakukan, yakni membangun jejaring organisasi petani secara nasional, mentransformasikan pertanian menuju sistem yang modern melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, memperkuat hilirisasi komoditas pertanian, mendorong regenerasi petani, serta memperkuat kemitraan nasional.

Dalam mendukung transformasi pertanian tersebut, Barantin memiliki peran strategis sebagai bagian dari sistem pertahanan nirmiliter melalui penyelenggaraan tindakan karantina. Menurut Karding, ancaman terhadap sektor pertanian tidak selalu berbentuk serangan fisik, tetapi juga dapat berupa masuk dan menyebarnya hama maupun penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan yang berdampak terhadap ketahanan pangan nasional.

Ia mencontohkan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak maupun African Swine Fever (ASF) pada babi sebagai pembelajaran penting mengenai besarnya dampak penyakit terhadap sektor pertanian. Karena itu, Barantin terus memperkuat pengawasan di kawasan pre-border untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama serta penyakit yang dapat mengancam sumber daya hayati Indonesia.

Selain menjalankan fungsi perlindungan, Barantin juga berperan sebagai economic tools dalam mendukung perdagangan komoditas pertanian. Barantin memastikan setiap komoditas yang akan dilalulintaskan maupun diekspor memenuhi persyaratan negara tujuan melalui sertifikasi dan tindakan karantina.

Karding menambahkan, Barantin terus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha, termasuk UMKM yang akan menembus pasar ekspor. Pendampingan tersebut tidak hanya memastikan komoditas bebas dari hama dan penyakit, tetapi juga memenuhi aspek ketertelusuran (traceability) mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga produk diterima di negara tujuan. Barantin juga terus memperkuat koordinasi dengan kementerian, lembaga, dan otoritas negara tujuan guna memperlancar akses ekspor komoditas pertanian Indonesia.

Melalui kolaborasi pemerintah, organisasi petani, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat, Karding optimistis transformasi pertanian Indonesia dapat terus dipercepat. Barantin berkomitmen untuk terus memperkuat sistem perkarantinaan yang modern, adaptif, dan terpercaya guna melindungi sumber daya alam hayati, mendukung ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan daya saing komoditas pertanian Indonesia di pasar global.

Bagikan Berita