Bogor – Plt. Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Dian Sri Rezeki Kusumastuti menegaskan pentingnya melindungi keanekaragaman hayati demi menjaga kelestarian sumber daya hutan, sekaligus menyokong fungsinya sebagai salah satu motor perekonomian masyarakat. Hal tersebut disampaikannya di hadapan para delegasi asing dalam acara Capacity Building for Like-Minded Countries Sustainable Timber yang digelar atas kerja sama Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University dengan Kementerian Luar Negeri RI, pada Kamis lalu (2/7), di Ballroom IPB International Convention Center, Bogor.
“Tantangan kita saat ini bukan hanya bagaimana memperlancar perdagangan, tetapi bagaimana memastikan perdagangan tersebut tetap aman, berkelanjutan, dan tidak mengorbankan ekosistem,” ungkap Dian.
Menurunya, Indonesia dianugerahi lebih dari 95 juta hektare kawasan hutan tropis yang menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Namun di era globalisasi, tingginya mobilitas komoditas internasional membawa risiko nyata, seperti masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dan Spesies Asing Invasif (IAS) yang dapat merusak ekosistem hutan. Risiko introduksi hama berbahaya ini kian diperparah oleh maraknya perdagangan ilegal lintas batas serta lemahnya pengawasan pada jalur-jalur distribusi baru.
Menghadapi tantangan itu, Dian menyatakan bahwa prioritas utama Barantin adalah menyelaraskan kelancaran arus perdagangan dengan keamanan lingkungan. Melalui payung hukum Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, Indonesia telah mentransformasi sistem karantina konvensional menjadi sistem biosekuriti nasional berbasis analisis risiko yang selaras dengan standar global IPPC dan WTO.
Guna memberikan proteksi menyeluruh, Barantin menerapkan pendekatan berlapis (multilayer biosecurity). Pengawasan ketat diberlakukan mulai dari fase sebelum komoditas masuk (pre-border), pemeriksaan di pintu masuk (border), hingga pemantauan berkala setelah komoditas beredar (post-border). Dengan sistem yang kredibel, tindakan karantina tidak lagi menjadi hambatan, melainkan instrumen yang membangun kepercayaan pasar internasional terhadap reputasi produk kehutanan Indonesia.
“Komitmen memperkuat biosekuriti ini membawa pesan penting bahwa investasi dalam pencegahan jauh lebih murah dan efektif daripada menanggulangi wabah setelah terjadi,” pungkas Dian, seraya menambahkan bahwa fasilitasi perdagangan dan kelestarian ekosistem harus selalu berjalan beriringan demi pertumbuhan ekonomi hijau yang tangguh.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan petani, pengusaha, maupun diplomat dari 19 negara, yaitu Argentina, Brasil, Bolivia, the Dominican Republic, Ecuador, Ghana, Guatemala, Honduras, Colombia, Malaysia, Mexico, Nigeria, Côte d'Ivoire, Paraguay, Peru, Thailand, Papua New Guinea, Namibia dan St. Lucia.




