Jakarta (3/7) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong Uruguay sebagai pintu masuk strategis perluasan ekspor Indonesia ke kawasan Amerika Selatan melalui penguatan kerja sama karantina, biosekuriti, dan harmonisasi standar sanitary and phytosanitary (SPS). Langkah tersebut menjadi fokus pembahasan dalam audiensi Kepala Barantin Abdul Kadir Karding dengan Duta Besar Uruguay untuk Indonesia Cristina González di Kantor Barantin, Jakarta.
Strategi tersebut diarahkan melalui skema MERCOSUR Gateway, dengan Uruguay diproyeksikan menjadi mitra pionir Indonesia dalam harmonisasi SPS di kawasan Amerika Selatan. Melalui kerja sama tersebut, Indonesia menargetkan perluasan akses pasar sekaligus memperkuat posisi perdagangan komoditas nasional di pasar global.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah isu strategis pada aspek regulasi, teknologi, dan ekonomi. Pada aspek dokumen dan legal, kerja sama diarahkan pada penyusunan MoU SPS bilateral sebagai payung hukum penguatan kerja sama karantina, termasuk penyelesaian protokol teknis kaviar dan Mutual Recognition Arrangement (MRA) sektor perikanan untuk mendukung perdagangan komoditas unggulan.
Pada aspek sistem dan teknologi, kedua negara juga mendorong pengembangan sistem sertifikasi digital terintegrasi melalui e-Cert dan e-Phyto antara Barantin dan MGAP Uruguay, serta penguatan early warning system untuk mendeteksi potensi hama dan penyakit pada produk kehutanan maupun pangan secara real-time.
Kerja sama tersebut juga diharapkan dapat membuka akses ekspor resmi tanaman hias Indonesia, mendukung akses impor jeruk Uruguay, serta mengoptimalkan perdagangan komoditas strategis guna menciptakan neraca perdagangan yang lebih seimbang.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan penguatan kerja sama karantina memiliki peran strategis dalam mendorong perluasan akses pasar dan peningkatan perdagangan bilateral Indonesia dan Uruguay.
“Kerja sama karantina saat ini tidak hanya berkaitan dengan pengawasan lalu lintas komoditas, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk membangun kepercayaan, memperluas akses pasar, dan mendukung perdagangan yang aman serta berkelanjutan,” ujar Karding.

Sementara itu, Duta Besar Uruguay untuk Indonesia Cristina González menyatakan komitmennya untuk memperkuat kerja sama bilateral, khususnya dalam mendukung kelancaran perdagangan dan penguatan sistem biosekuriti kedua negara.
“Kami melihat potensi yang besar untuk memperdalam kolaborasi dengan Indonesia. Penguatan kerja sama di bidang karantina dan biosekuriti akan mendukung hubungan perdagangan yang lebih kuat dan memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Cristina González.
Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat kemitraan Indonesia–Uruguay sekaligus membuka jalur perdagangan yang lebih luas bagi komoditas Indonesia di kawasan Amerika Selatan.




