Logo

Dari Rawa Kalsel ke Meja Makan Tiongkok, Ekspor Belut Hidup Tembus Rp10 Miliar

29 Juli 2026
29 dibaca
Dari Rawa Kalsel ke Meja Makan Tiongkok, Ekspor Belut Hidup Tembus Rp10 Miliar

Kontributor

Banjarmasin – Dulu cuma jadi lauk di warung pinggir rawa, kini belut hidup asal Kalimantan Selatan melenggang ke pasar Tiongkok. Dalam 7 bulan pertama 2026 saja, nilai ekspornya sudah tembus Rp10,14 miliar.

Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalsel mencatat, sepanjang Januari–Juli 2026 telah terjadi 72 kali pengiriman belut hidup ke Tiongkok. Totalnya 1,4 juta ekor atau 205,6 ton. Angka itu melonjak tajam dibanding 2025 yang hanya 17 kali pengiriman senilai Rp1,92 miliar.

Lonjakan itu tak lepas dari dibukanya penerbangan kargo langsung Banjarmasin–Tiongkok. Sebelumnya eksportir harus memutar dulu ke Jakarta atau Surabaya. "Rantai logistik jadi lebih pendek. Kualitas belut lebih terjaga karena waktu tempuh lebih singkat," kata Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kalsel, Erwin A. M. Dabukke, dalam Go Ekspor Barantin Web Series Episode 3 yang digelar Rabu (29/7).

Karantina Jadi Kunci Masuk Pasar Global

Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyebut belut sebagai salah satu komoditas perikanan dengan prospek cerah di pasar internasional. Tapi untuk masuk ke negara tujuan, semua komoditas wajib lolos uji karantina.

"Belut hidup yang diekspor harus diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas hama penyakit ikan. Ini bukan hanya syarat negara tujuan, tapi juga untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia," ujar Plt. Deputi Bidang Karantina Ikan Barantin, Sugeng Sudiarto.

Selain mengawasi, Barantin juga turun mendampingi pelaku usaha. Mulai dari urus dokumen, cek kesehatan media pembawa, hingga penerbitan sertifikat kesehatan. Tujuannya satu: mempermudah akses ekspor.

Kepala PPSDM Karantina, Wisnu Wasisa Putra, menambahkan edukasi seperti web series ini penting agar makin banyak UMKM paham prosedur. "Kami ingin pelaku usaha Kalsel melek peluang global dan siap bersaing," katanya.

Potensi Rawa Jadi Kekuatan

Kalsel punya modal besar. Kondisi perairan rawa dan lahan basah membuat daerah ini jadi salah satu penghasil belut alam terbesar di Indonesia.

Erwin menyebut sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan karantina jadi kunci. "Kalau mutu terjaga, daya saing belut Kalsel di pasar global akan semakin kuat," ujarnya.

Dalam web series tersebut, Barantin juga menghadirkan eksportir belut untuk berbagi strategi memenuhi standar mutu negara tujuan.

Sugeng menutup, belut hidup bukan sekadar komoditas. "Ini soal nilai tambah sumber daya perikanan Indonesia, memperluas pasar, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah," tutup Sugeng.

Narahubung:
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Utama Badan Karantina Indonesia

Siaran Pers Badan Karantina Indonesia

Nomor: 3407/R-Barantin/07.2026
Banjarmasin, 29 Juli 2026

Bagikan Berita